sumber foto: pixabay.com

“Sesungguhnya Kami telah menurunkanya (Alquran) pada Lailat al-Qadr (yakni malam kemuliaan). Dan apakah yang menjadikanmu tahu apakah malam Lailat al-Qadr (malam kemulian) itu? Lailat al-Qadr itu lebih baik dari seribu bulan. Turun malaikat-malaikat dan Ruh (malaikat Jibril)  padanya (yakni pada malam itu) dengan izin Tuhan Pemelihara mereka untuk mengatur segala urusan? Salam (kedamaian yang agung dan besar) ia (malam itu) sampai terbitnya fajar.” (QS. Al-Qadr [97] : 1-5)

Syahdan dalam kitab Mukasyafah al-Qulub, Imam Ghazali pernah mewartakan sebuah cerita berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw. Begini kisahnya:

Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas ra., Rasulullah saw pernah berkisah kepada para sahabatnya tentang seorang laki-laki Bani Israil bernama Syam’un yang suka berperang melawan orang-orang kafir selama seribu bulan tanpa henti. Kekuatan dan keberaniannya di medan perang sering membuat musuh-musuhnya ketakutan bukan kepalang.

Pada suatu hari, utusan orang-orang kafir datang mengunjungi istrinya. Mereka  mengiming-imingi istrinya dengan hadiah perhiasan emas kalau istrinya dapat mengikat suaminya. Menurut perkiraan mereka, Syam’un dapat dengan mudah ditangkap bila dalam keadaan terikat. Rayuan itu pun diterima istri Syam’un.

Ketika Syam’un sedang tidur, sang istri diam-diam mengikat badannya dengan tali. Namun, tatkala Syam’un bangun, ia dengan mudahnya memutuskan tali-tali yang mengikat tubuhnya.

“Apa maksudmu berbuat demikian kepadaku?” tanya Syam’un, heran dan tidak mengerti kepada istrinya.

“Aku hanya ingin menguji kekuatanmu,” jawab istrinya pura-pura.

Istrinya kemudian memberitahu orang-orang kafir perihal kegagalannya. Lalu, mereka memberi rantai kepada istri Syam’un dan memerintahkanya kembali agar mengikat suaminya dengan rantai itu. Istri Syam’un segera menunaikannya. Akan tetapi, sebagaimana peristiwa sebelumnya, Syam’un, lagi-lagi, dengan mudah memutuskan rantai besi yang mengikat tubuhnya.

Dalam kondisi inilah, Iblis mendatangi kaum kafir. Sang iblis berkata kepada mereka agar memerintahkan istri Syam’un untuk bertanya kepada suaminya di mana letak kelemahannya. Setelah dibujuk, Syam’un mengatakan kepada  istrinya bahwa kelemahannya ada pada delapan jambul di kepalanya.

Tatkala Syam’un tidur, istrinya memotong delapan jambul suaminya itu, lalu mengikatkannya pada tubuhnya. Empat jambul digunakan untuk mengikat tangan dan empat jam­bul yang lain untuk mengikat kakinya. Setelah itu, Syam’un tidak mampu melepaskan dirinya dari ikatan tersebut karena itulah memang kelemahanya.

Akhirnya, orang-orang kafir dapat menangkap Syam’un. Lalu, mereka menyiksanya. Telinga dan bibir Syam’un dipotong dan badannya  digantung di suatu tiang yang sangat tinggi. Syam’un tidak henti-henti berdoa kepada Allah swt. agar diberi kekuatan untuk melepaskan diri dari penyiksaan musuh-musuhnya.

Allah mengabulkan doa Syam’un, hingga ia dapat melepaskan diri dari tali-tali yang menjerat dirinya dan menghancurkan  tiang yang dipakai untuk menggantungnya. Semua kaum kafir pun mati tertimpa tiang tersebut.

Para sahabat Rasulullah saw. sangat kagum mendengar cerita itu. Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, dapatkah kami meraih pahala sebagaimana yang diperoleh Syam’un?” “Aku sendiri tidak tahu,” jawab Rasulullah saw.

Kemudian beliau berdoa, “Tuhanku, Engkau telah menjadikan umatku orang-orang yang pendek usia dan sedikit dalam beramal.” Dan Allah pun mengabulkan doanya  dengan memberi malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan yang dipakai Syam’un untuk berjihad di jalan-Nya. Pemberian keutamaan Lailatul Qadar itu,  kemudian terabadikan dalam wahyu Allah pada surah al-Qadr  yang penulis sudah sebutkan di awal tulisan.

Lailat al-Qadr (malam kemulian). Kata ini tentu saja sangat populer, terutama sekali  di bulan Ramadan yang tengah kita jalani sekarang, lebih-lebih pada 10 hari terakhir Ramadhan. Setiap orang yang berpuasa pastinya sangat mendambakan meraih malam Lailatul Qadar ini.

Ada beberapa hal kenapa malam ini menjadi begitu istimewa? Pertama, sebab  pada malam Lailatul Qadar bertepatan dengan diturunkannya Alquran sebagai kitab suci umat Islam. Sebagaimana Allah swt nyatakan: “Sesunguhnya kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan (lailatul qadar).” (QS. Al-Qadr [97]: 1)

Kedua, Anas bin Malik, salah seorang sahabat Rasulullah menyatakan bahwa nilai utama Lailatul Qadar— sebagimana tertuang dalam ayat ke-3 surah al-Qadr —adalah amal ibadah seperti shalat, tilawah (membaca) Alquran, zikir dan bersedekah yang dikerjakan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal perbuatan selama seribu bulan (83 tahun lebih 4 bulan) pada malam-malam yang lain. Atau bayangkan perbandinganya antara pahala Syam’un dalam kisah di atas dengan pahala Lailatul Qadar.

Ketiga, pada malam Lailatul Qadar, para malaikat turun ke bumi menghampiri hamba-hamba Allah yang sedang qiyam al-lail (bangun tengah malam untuk beribadah) dan melakukan zikir, mulai dari malaikat Jibril hingga malaikat-malaikat lainnya. Demikian yang tertulis dalam ayat 4, surah al-Qadr. Saat itu, para malaikat mengucapkan salam kepada mereka. Dalam satu hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah dikatakan, ketika para malaikat turun ke bumi, pintu-pintu langit terbuka seraya memancarkan cahaya. Bagi orang yang terbuka hijabnya, ia dapat melihat malaikat yang sedang berdiri, rukuk, dan sujud kepada Allah swt. sambil berzikir. Di antara mereka ada yang dapat melihat surga dan neraka dengan segala isinya. Wallahua’lam bilshawab.

Inilah malam ketika Allah swt. mengabulkan segala permohonan para hamba-Nya dan menerima taubat mereka yang bertaubat.  Nabi sendiri bersabda, “Barangsiapa melakukan qiyam (bangun untuk ibadah) pada Lailat al-Qadr, atas dasar iman serta semata-mata mencari keridhaan Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang pernah dilakkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) (Muaz/berbagai sumber/foto: pixabay.com)