“Ulama rabbani adalah para pejuang hati, para ulama hati, sementara ulama ahbar itu lawannya:  para pejuang lisan yang mungkin berdarah-darah di lidahnya…”

Oleh: A. Muaz

 

Bila ada perih yang menyesakkan batin di 2016–dan itu mesti dicatat rapat-rapat di benak–tentu, saya 1000 persen akan menyebut ini: ulama dan kebencian, atau umat dan kebencian. Betapa mudahnya seseorang yang konon berilmu dan fasih menyitir teks-teks suci serta hadits menguar kata-kata kotor dan tak elok kepada ulama lainnya.

Ustaz anu menuding kyai anu penjilat. Kyai itu menuduh ustaz yang satu pengkhianat. Habib yang satu dianggap bodoh. Habib yang lain dipandang habib palsu. Dan seterusnya. Dan lain-lainnya. Masing-masing kyai atau habib atau ustaz punya “umat” sendiri-sendiri; masing-masing itu pula mereka mengikuti jejak panutannya.

Lalu tersebarlah pesan broadcast berantai dan meme-meme di media sosial yang inti isinya: vonis dan kebencian, data-data yang tidak sahih, petuah-petuah yang tidak absah sumbernya. Pembuatnya? Bisa jamaah kyai/ustaz/habib yang demen (atau sedang eforia) medsos-an, atau bisa juga pegiat dunia maya yang semata-mata ingin meraup rupiah dari sikap saling mencaci dan membenci antar ulama dan umat. Wallahu’alam bilshawab. Penyebarnya? Siapa saja. Namun, umumnya, para pengikut fanatik ulama/kyai/ustaz terkait. Ironisnya, ustaz-ustaz atau kyai-kyai atau habib-habib, yang syahdan, berilmu dan pandai agama juga larut di dalamnya.  Riuh. Bising. Berisik. Berantai. Tak ada dialog yang indah. Tidak ada kesempatan saling tabayyun. Sialnya, acapkali, kita bisa mendapatkannya berkali-kali.

Saya percaya, mereka yang kritis dan arif, tentu, tidak buru-buru meneruskan kembali pesan broadcast atau meme-meme tersebut. Dan kalau pun ia meyakini itu benar pasca proses cek dan ricek yang panjang, ia akan berpikir dua kali: apakah ada kebahagian yang saya bisa sesap dari menyebar meme-meme tersebut? Adakah kepuasan batin yang menyejukkan iman dan jiwa bila ini saya teruskan ke kawan-kawan saya? Ia pastinya akan menimbang-nimbang seraya bertanya sendiri: apakah ini menimbulkan manfaat buat saya dan orang banyak? Atau justru sebaliknya: mudarat berlipat-lipat.

Tiba-tiba saya ingat petuah Syekh Abu Thalib Al-Makki dalam Ilmul Qulub ihwal ulama rabbani dan ulama ahbar. Menurutnya, ulama rabbani itu ulama yang berilmu dan mengamalkan ilmunya serta mengajarkan kebaikan kepada manusia. Sedang ulama ahbar justru sebaliknya. Ulama rabbani adalah para pejuang hati, para ulama hati, sementara ulama ahbar itu lawannya:  para pejuang lisan yang mungkin berdarah-darah di lidahnya.

Mungkin nalar saya keliru. Barangkali, pendapat saya tidak kukuh. Tapi hati kecil saya selalu menyimpan keyakinan ini:  “wakil-wakil”-Nya di bumi adalah ulama yang super baik, kyai-kyai yang penuh kasih, ustaz-ustaz yang ramah, ulama-ulama yang energinya adalah cinta. Wallahu’alam bilshawab.