Di bulan Januari ini, warga DKI Jakarta, khususnya masyarakat Betawi, memperingati dua tokohnya yang wafat sebelum Indonesia merdeka, yaitu Mohammad Husni Thamrin (MH Thamrin)  dan Habib Utsman bin Yahya. MH Thamrin, tokoh pergerakan dan pahlawan nasional, wafat pada tanggal 11 Januari 1941 sedangkan Habib Utsman bin Yahya, Mufti Betawi,  wafat pada hari Ahad, 19 Januari 1914. Salah satu yang patut dikenang  dan merupakan kesamaan dari keduanya adalah pilihan berjuang atau berdakwah secara kooperatif di era Pemerintah Hindia Belanda.

Menurut Asvi Warman Adam, Sejarawan LIPI, Selama ini kata “kooperatif ” memiliki konotasi kurang positif. Orang lebih menghargai tokoh yang berjuang secara non-koo. Namun, kedua jalur itu saling melengkapi perjuangan bangsa dalam mencapai kemerdekaan.  Jika Ir. Soekarno (Bung Karno) dikenal sebagai tokoh non kooperatif, maka MH Thamrin dikenal sebagai tokoh kooperatif di dalam berjuang.  Bila Bung Karno berpidato soal makro, seperti falsafah dan ideologi negara, MH Thamrin menukik kepada persoalan mikro, seperti kampung yang becek tanpa penerangan dan masalah banjir. da memprotes mengapa perumahan elite Menteng yang diprioritaskan pembangunannya, sedangkan kampung kumuh diabaikan. Ia mempersoalkan harga kedelai, gula, beras, karet rakyat, kapuk, kopra, dan semua komoditas yang dihasilkan rakyat.  Sikap MH Thamrin bukanlah kooperatif tanpa reserve.  DIa memiliki prinsip, sebagai tercermin dalam pernyataannya “Nasionalis kooperatif dan nonkooperatif memiliki satu tujuan bersama yang sama-sama yakin pada Indonesia Merdeka! Jika kami kaum kooperator merasa bahwa pendekatan kami tidak efektif, maka kami akan menjadi yang pertama mengambil arah kebijakan politik yang diperlukan. ” (Handelingen Volkraad, 1931-1932).

Sedangkan Habib Utsman bin Yahya dikenal sebagai ulama yang kooperatif dengan pemerintah Hindia Belanda dalam melakukan dakwah Islam dan memperjuangan kepentingan umat.  Kesediaannya menjadi sebagai mufti Betawi dan diangkat oleh Belanda sebagai Honorair adviseur (Penasehat Kehormatan) untuk urusan Arab, adalah bentuk dari sifat kooperatifnya. Jika MHT Thamrin memiliki tokoh pembanding dari sikap kooperatifnya yang menempuh perjuangan non kooperatif, yaitu Bung Karno, maka Habib Utsman bin Yahya juga memiliki tokoh pembanding dari sikap kooperatifnya yang menempuh jalan dakwah non kooperatif, yaitu Syaikh Salim bin Sumair Al Hadhrami.

Syekh Salim bin Sumair Al Hadhrami, penulis kitab Safinatun An Najah,  dikenal sangat tegas di dalam mempertahankan kebenaran, apa pun resiko yang harus diha­dapinya. Beliau juga tidak menyukai jika para ulama mende­kat, bergaul, apalagi menjadi budak para pejabat. Seringkali beliau memberi nasihat dan kritikan tajam kepada para ulama dan para kiai yang gemar mondar-mandir kepada para pejabat pemerintah Belanda.

Martin van Bruinessen dalam bukunya yang berjudul ‘Pesantren and kitab kuning: Continuity and change in a tradition of religious learning”  menceritakan per­bedaan pandangan dan pendirian yang terjadi antara  Habib Utsman bin Yahya dan Syekh Salim bin Sumair yang telah menjadi perdebatan di kalangan umum. Pada saat itu, tampaknya Syekh Salim bin Sumair  kurang setuju dengan pendirian  Habib Utsman bin Yahya yang loyal kepada Pemerintah Hindia Belanda.  Habib Utsman bin Yahya sendiri yang pada waktu itu, sebagai Mufti Betawi yang diangkat dan disetujui oleh  Pemerintah Hindia Belanda, sedang berusaha menjern­batani jurang pemisah antara `Alawiyyin (Habaib) dengan Pemerintah Hindia Belanda, sehingga dia merasa perlu untuk mengambil hati para pejabatnya.

            Tuduhan-tuduhan kepada Habib Utsman bin Yahya sebagai antek Belanda dari pihak-pihak yang tidak menyukainya semakin kuat ketika dia bersahabat dengan Snouck Hurgronje. Persahabatannya dengan Snouck Hurgronje memang mengundang kontroversi dan polemik di kalangan ulama dan cendikiawan sampai hari ini. Namun, persahabatan tersebut terjalin karena menurut Habib Ismail bin Yahya bahwa Habib Utsman bin Yahya meyakini Snouck Hurgronje adalah seorang Muslim yang keyakinan ini dibawanya sampai wafat. Sedangkan ketika Habib Ustman bin Yahya sudah wafat, Snocuk Hurgonje masih aktif melakukan misinya.                Dalam rangka mengambil hari para pejabat Pemerintah Hindia Belanda, Habib Utsman bin Yahya, sebagai Mufti Betawi, mem­berikan beberapa fatwa yang seakan-akan mendukung program dan rencana mereka. Hal itulah yang kemudian menyebabkan Syekh Salim bin Sumair  terlibat dalam polemik panjang dengan Habib Utsman bin Yahya  yang dianggap tidak konsisten di dalam mempertahankan kebenaran. Syekh Salim bin Sumair memang ulama yang dikenal sangat anti de­ngan pemerintahan yang dholim, apalagi para penjajah kafir.

Namun, seperti MH Thamrin, sikap kooperatif Habib Utsman bin Yahya juga bukanlah tanpa reserve. Dikisahkan oleh Habib Ali Yahya, mantan Wapemred Majalah Al Kisah, bahwa pada suatu hari, Habib Utsman bin Yahya datang menghadap ke Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Istana Buitenzorg (Istana Bogor). Kedatangannya kali ini dengan menempatkan lencana Bintang Oranye, maaf, di bagian pantatnya,  bukan lagi di dada sebelah kiri.  Lencana Bintang Oranye (Orde van Oranye Nassau) diberikan oleh Ratu Belanda, Ratu Wilhelmina, kepada Habib Utsman bin Yahya sebagai penghormatan karena peran dan jasanya kepada Pemerintah Hindia Belanda. Penempatan lencana Bintang Oranye di bagian pantat ini sebagai bentuk protes dan  ketidaksukaan Habib Utsman bin Yahya kepada sikap Pemerintah Hindia Belanda yang terus membiarkan keberadaan peternakan babi yang berada di pinggir sungai.  Padahal Habib Utsman Bin Yahya sudah meminta kepada Pemerintah Hindia Belanda agar peternakan babi itu ditutup sebab sungai di peternakan babi itu digunakan umat Islam untuk mandi dan bersuci.  Habib Utsman bin Yahya bermaksud mengembalikan lencana Bintang Oranye kepada Ratu Belanda melalui Gubernur Jenderal Hindia Belanda jika peternakan babi tersebut tidak ditutup. Gubernur Jenderal Hindia Belanda pun mengabulkan permintaan Habib Utsman Bin Yahya dengan menutup peternakan babi tersebut karena tahu jika Habib Utsman Bin Yahya merupakan salah satu tokoh yang sangat disegani  dan dihormati oleh Ratu Wilhelmina.

Akhir kalam, di era sekarang ini, banyak tokoh dan ulama kita berjuang di jalan kooperatif dalam memperjuangan nasib umat dan bangsa ini. Kiprah mereka memang tidak seheroik tokoh dan ulama yang melakukan perjuangan  di jalan non kooparatif  atau cenderung konfrontatif , bahkan profil dan kiprah mereka nyaris tidak populer dan tidak diliput media massa secara luas. Namun, ketahuilah, peran mereka sama besarnya, sama pentingnya, seperti kedua tokoh dari Betawi ini. RZK (Sumber: Rakhmad Zailani Kiki, Dua Tokoh Betawi di Jalan Kooperatif, Koran Republika, Dialog Jumat, h. 9, 13 Januari 2017)***