Dua tahun menjelang tragedi G 30 S/PKI, desaku mengalami riuh redanya rapat-rapat politik. Parade drumband digelar pada setiap even perayaan disertai semangat revolusioner “Ganyang Malaysia”. Barisan Tani Indonesia (BTI), organisasi kaum tani Partai Komunis Indonesia (PKI), aktif menggelar rapat politik. Orasi yang berisi ancaman dan teror keluar dari tokoh BTI/PKI yang ditujukan kepada para ulama, kepala desa dan orang-orang kaya.

Di antara mereka yang menjadi korban teror BTI adalah ayahku. Dua kali BTI/PKI datang ke rumah. Saat itu, aku masih seorang murid Sekolah Rakyat (SR). Kedatangan mereka yang pertama menyampaikan pesan kepada ayah bahwa kalau PKI menang, sawah-sawah orang kaya akan dibagi rata untuk buruh tani. Kulihat wajah tokoh PKI menebar ancaman dengan garang. Sementara ayah memandang mereka dengan penuh tanya. Kalimat yang keluar dari ayah,”Allah Maha Adil.” Mereka pun pulang.

Mereka datang kembali ke rumah. Ada acara Walimatul khitan adikku. Orang PKI kembali terlibat perbincangan panas dengan ayah. Kudengar orang PKI kembali menebar teror,”Kau tahu, kami sudah menyiapkan `Kolam Mambo`!” Kolam Mambo adalah istilah orang-orang PKI untuk ‘ladang pembantaian` bagi kyai dan santri jika PKI menang, demikian ancaman tokoh PKI itu.Rupanya, teror ini membuat ayah khawatir. Beliau sempat berkata,”Peristiwa Madiun akan berulang?”Sejak itu, banyak kyai yang sering datang ke rumah, entah apa yang diperbincangkan, aku tidak lagi dapat mengingatnya dengan pasti.

Tamat SR, ayah mengantar aku mondok ke Kajen, Margoyoso, Pati. Suasana menjelang tragedi G.30.S semakin nyata. Untuk kekuatan PKI sangat menakutkan. Pawai, rapat dan isu-isu teror berseliweran. Lagi-lagi kyai dan santri menjadi sasaran teror. Aku sangat takut ketika perayaan 17 Agustus 1965. Beribu orang berbaris menuju lapangan. Kostum warna hitam dan topi berwarna merah sangat dominan dan memenuhi lapangan. Lagu “Genjer-Genjer” dan yel PKI membahana memenuhi langit lapangan.

Sementara itu, kaum santri tidak kalah semangat. Mereka melantunkan Shalawat Badar disertai yel-yel NU. Suasana seperti mau perang. AKu tetap khawatir dan ketakutan, jumlah mereka lebih banyak dan galak.

Akhirnya, hari-hari yang sangat ditakutkan itu tiba. Setelah shalat Jum`at, tanggal 1 Oktober 1965, kyai kami mengumpulkan seluruh santri. Tidak seperti biasa, tiga orang kyai kami hadir semua. Kyai Fahrurazi bertindak sebagai juru bicara. Beliau mengatakan baru mendengar siaran Radio Republik Indonesia (RRI) yang memberitakan telah terjadi kudeta yang dilakukan oleh Dewan Jenderal. Kudeta dapat digagalkan oleh Dewan Revolusi dan Presiden Soekarno selamat. Berita itu diulas oleh kyai dengan sangat jitu. Kata beliau, pasti yang melakukan kudeta itu PKI, bukan Dewan Jenderal.  PKI biasa melakukan fitnah melalui agitasi dan propaganda. Kyai kemudian menceritakan tragedi pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. Menutup pertemukan, Kyai berdoa untuk keselamatan para santri dan pondok.

Hidup di pondok pesantren seterusnya sangat mencekam. Pengajian banyak diliburkan diganti dengan mendengarkan petunjuk kyai bagaimana menghadapi kemungkinan serangan PKI. Ijazah dan wirid tolak bala diberikan dan diajarkan kepada para santri. Rasa takut menyertai kehidupan santri yang berlangsung sekitar satu bulan. Bila malam tiba, kami tidak tidur di pondok. Sembunyi di makam, masjid atau di rerimbunan pohon rumbia. Bunyi kentongan bertalu-talu bila ada ancaman adalah yang paling aku takuti. Untung santri senior selalu siap di depan melindungi yang yunior.  Begitulah kehidupan di pondok pesantren saya pada tahun 1965.

Suasana takut berganti dengan harapan. Pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) datang. Bersama Kyai dan para santri, RPKAD berperang menumpas PKI. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar! PKI hancur dan dibubarkan oleh Jenderal Soeharto. Pembangunan nasional dimulai, kesejahteraan meningkat dan Indonesia menjadi negara industri baru. Kapal, kereta api dan pesawat terbang pun dibuat oleh tangan cerdas anak bangsa. Sayang, reformasi mendorong sebagian kita menuntut bangsa ini minta maaf kepada PKI. Loh, kok jadi kebalik-balik? Astaghfirullahal`adzim.

 

Ahmad Syafi`i Mufid

Kampung Madani Bekasi

(sumber gambar: http://chirpstory.com/li/287083)