JAKARTA- Valentine Day  yang dikenal sebagai hari kasih sayang akan dirayakan sebagian manusia di seluruh dunia besok, 14 Februari.  Bagi negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas beragama Islam,Valentine Day menimbulkan polemik. Dikarenakan, perayaan Valentine Day banyak diikuti olah kalangan remaja dan pemuda Islam dengan kegiatan maksiat, seperti  mabuk-mabukan sampai seks bebas , terlebih sejarah Valentine Day bukan dari Islam. Perayaan Valentine Day berasal dari upacara ritual agama Romawi kuno. Dalam The Encyclopedia Britania disebutkan, Paus Gelasius I mencetuskan pada 14 Februari 496 M sebagai upacara ritual resmi bangsa Romawi. Semenjak saat ini, kaum Nasrani terus memperingatinya sebagai hari raya gereja yang dikenal Saint Valentine’s Day.

Dikarenakan banyak menimbulkan mudharat, beberapa negara Islam atau negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam telah menyikapi perayaan Valentine Day, khususnya oleh lembaga fatwa resmi mereka.

Al-Lajnah Ad-Da`imah Lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta` (Komite Tetap Untuk Riset Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) telah mengeluarkan fatwa bahwa Valentine Day termasuk jenis termasuk hari raya watsaniyyah (paganisme/para penyembah berhala) nashraniyyah. Maka tidak diperbolehkan bagi seorang muslim yang telah menyatakan diri beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir untuk ikut merayakan hari raya tersebut, atau menyetujuinya, atau turut mengucapkan selamat. Sebaliknya, wajib atasnya untuk meninggalkan dan menjauhinya dalam rangka memenuhi perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, serta menjauhi sebab-sebab yang mendatangkan kemurkaan dan adzab Allah subhanahu wa ta’ala. Demikian juga haram atas seorang muslim untuk turut membantu/berpartisipasi pada hari perayaan tersebut ataupun hari raya kafir/bid’ah terlarang lainnya, dalam bentuk apapun, baik makanan, minuman, jual beli, produksi, hadiah, kartu-kartu ucapan selamat, iklan, atau yang lainnya. Karena itu semua merupakan bentuk kerja sama dalam perbuatan dosa dan permusuhan, serta bentuk kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Jawatan Kuasa Fatwa Negeri Johor, Malaysia, mengeluarkan fatwa tentang perayaan hari valentine pada 2005. Secara tegas, Jawatan Kuasa Fatwa Negeri Johor melarang umat Islam ikut merayakan Valentine. Perayaan Valentine Day  tidak pernah dianjurkan dalam Islam. Selain itu, bunyi fatwa tersebut menyebut perayaan valentine erat kaitannya dengan unsur dari agama lain. Selain itu, kerap dalam perayaannya bercampur dengan perbuatan maksiat yang dilarang dalam Islam.

Di Indoneasia, MUI pusat belum mengeluarkan fatwa resmi soal perayaan Valentine Day karena menurut  Ketua Umum MUI Pusat, KH Ma’ruf Amin, Valentine Day sudah jelas keharamannya, jadi tidak perlu ada fatwa tentangnya.

Namun demikian, beberapa MUI daerah sudah mengeluarkan fatwa soal perayaan hari valentine. Salah satunya MUI Kota Bogor yang mengeluarkan fatwa soal Valentine Day pada tahun 2012.  MUI Kota Bogor mengimbau agar umat Islam tidak ikut dalam perayaan Valentine Day yang merupakan tradisi dan budaya agama lain.

MUI Kota Bogor juga melarang umat Islam untuk menyemarakkannya dengan mengirimkan SMS, kartu ucapan selamat, mencetak, menjualnya, dan mensponsori acara-acara tersebut karena termasuk tolong-menolong dalam berbuat dosa dan maksiat.

MUI Kota Bogor melihat kalangan remaja yang mengikuti perayaan hari valentine sering terjerumus dalam pergaulan bebas (khalwat dan ikhtilath) yang termasuk dalam larangan mendekati zina. Maka tindakan saddu dzari’ (istilah ushul fikih) wajib dilakukan, yakni menutup segala peluang dan pintu-pintu maksiat serta yang mendekatkan pada perbuatan zina. *** (RZK, dari pelbagai sumber)