Para habib (habaib) di Indonesia disebut juga dengan Asyraf Hadhramaut.  Asyraf Hadramaut merupakan gelar bagi orang-orang keturunan Rasulullah SAW dari jalur Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa yang berada di Hadhramaut, Yaman. Silsilahnya adalah Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al Uraidhy bin Al-Imam Ja`far Ash-Shadiq bin Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Al-Imam Zainal Abidin Ali bin Al-Imam Al-Husein bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karamallaahu wajhahu (krw).

Menurut Dr. Muhammad Hasan Al-Aydrus, pengajar sejarah di Universitas Uni Emirat Arab, Nama Al-Muhajir adalah gelar karena Al-Imam Ahmad bin Isa hijrah dari Bashrah setelah kota itu menghadapi serangan massal dari kaum Khawarij dan pemberontakan orang-orang yang berasal dari Afrika. Awalnya, ia memutuskan berangkat ke Hijaz dan menetap setahun di kota Madinah ketika kota Makkah menghadapi serangan orang-orang Qaramithah. Kemudian, ia melaksanakan haji dan thawaf mengelilingi ka`bah tanpa ada Hajar Aswad yang ketika itu telah dicabut oleh orang-orang Qaramithah dan dibawa ke Hijr sehingga tempat itu menjadi kosong. Lalu, ia memutuskan hijrah ke Hadhramaut, Yaman. Disana pun, ia menghadapi orang-orang Khawarij. Lambat laun, berkat kegigihannya dan anak cucunya, mazhab Syafi`i dapat menjadi mazhab yang dipeluk penduduk Hadhramaut. Setelah itu salah seorang cucunya, Muhammad Shohib Marbath, menyempurnakan perjalanannya dan menyebarkan mazhab Syafi`i di daerah Zhufar.

Para syarif Hadhramaut juga hijrah ke Afrika Timur, India dan Asia Tenggara untuk berdakwah. Kemudian sejarah mencatat bahwa peran mereka sangat penting dalam menyebarkan Islam di Indonesia, dari Sabang sampai Marauke, khususnya di tanah Betawi yang dibawa oleh qabilah Al-Alawiyin atau qabilah Ba`alawi, yaitu kelompok syarif dari keturunan Imam Alwi yang merupakan anak dari Ubaidillah. Dikisahkan bahwa Imam Al-Muhajir mempunyai empat orang putera, yaitu Ali, Al-Husein, Ubaidillah dan Muhammad. Ubaidillah hijrah bersama ayahnya ke Hadhramaut dan mendapat seorang anak, yaitu Imam Alwi.

Keberhasilan dakwah para syarif hadhramaut di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, dan khususnya lagi di Betawi, sehingga di Betawi mereka mendapat julukan habib atau habaib (bentuk jamaknya) yang artinya kekasih, karena akhlak mereka yang baik yang bersumber dari kalbu mereka yang merupakan selembut-lembutnya kalbu.

Kalbu mereka yang lembut ini bahkan disebut sendiri oleh Rasulullah SAW di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,”Mereka (orang-orang Yaman) yang paling lembut kalbunya.”Imam Al-Baghawi di dalam kitab Syarhus Sunnah ketika menerangkan hadits dari Imam Ahmad tersebut  menyatakan bahwa  yang demikian itu merupakan pujian Rasulullah SAW kepada penduduk Yaman, dikarenakan mereka adalah kaum yang bersegera dalam beriman kepada Rasulullah  SAW dan baiknya keimanan mereka kepada Allah SWT.

Kini, kita berharap, konflik di Yaman dapat segera selesai karena orang-orang Yaman memiliki modal yang paling berharga untuk menyelesaikannya bahkan mendapat pujian dari Rasulullah SAW sendiri, yaitu memiliki kalbu yang paling lembut. Memang masalah di Yaman yang terus-menerus menimbulkan konflik dan pertumpahan darah begitu kompleks, banyak faktor penyebabnya yang sulit diurai.  Namun kita yakin bahwa  bermodal kalbu yang paling lembut dan ketaqwaan mereka kepada Allah SWT, mereka akan dapat berhasil menyelesaikan konflik, dan Yaman kembali menjadi tujuan kaum Muslimin bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk mendapatkan keberkahan. Diriwayatkan dari Ibnu Abi al-Shoif dalam kitab Fadhoil al-Yaman, dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi SAW bersabda, ‘Kalau terjadi fitnah pergilah kamu ke negeri Yaman karena di sana banyak terdapat keberkahan.”

Akhir kalam, mari kita mencintai Yaman, bergerak untuk peduli terhadap  rakyat Yaman dengan menyumbangkan apapun yang kita bisa, baik harta maupun doa, untuk meringankan penderitaan mereka dan agar konflik mereka segera selesai. Dikarenakan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ari bahwa Rasulullah SAW menyatakan kepadanya,“Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah”. Bersabda Nabi saw,” Mereka adalah kaummu, ya  Abu Musa, orang-orang Yaman”. Juga hadis dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Siapa yang mencintai orang-orang Yaman berarti telah mencintaiku, siapa yang membenci mereka berarti telah membenciku.”  *** (Rakhmad Zailani Kiki, dari pelbagai sumber)

Leave a Reply

avatar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of